Kaca di Mata

Pilih hidup tanpa pasangan atau kacamata?

Imagine how i can see the world without wearing glasses.

Saya adalah pemakai setia kacamata sejak duduk di bangku SMP. Gejala rabun jauh sebetulnya telah saya rasakan semenjak kelas 6 SD. Namun waktu itu saya masih takut-takut untuk memberitahu orang tua. Dalam benak saya, pasti dimarahi oleh bapak.

Dulu itu, bapak selalu menegur ketika melihat saya menonton televisi dalam jarak yang terlalu dekat, atau membaca buku sambil tiduran. Nah dasar sayanya yang terlalu menyepelekan, akhirnya sekarang jadi seperti ini. Saya menyesal tidak mendengarkan dan melakukan nasehat beliau. Coba kalau didengar, mungkin saya sudah jadi kadet air force :D 

Karena benda ini adalah alat yang krusial dalam keberlangsungan hidup saya, maka saya nyaris menggunakannya selama 24 jam. Kecuali saat mandi, baru akan saya lepas. Bagaimana saat mau tidur?? Kalau sadar, maka saya akan melepasnya terlebih dahulu. Kalau tidak, ya wassalam. Dulu mas yang selalu melepas kacamata saya ketika saya tertidur (he's such a sweet guy). Lalu dia akan meletakkannya di meja rias. Nah semenjak kepergiannya, saya sudah berkali-kali merusak kacamata saat tertidur. Entah itu gagangnya yang patah, atau kacamatanya terlempar dari tempat tidur ke lantai akibat saya letakkan di kasur. I was so so careless. 

Speaking of which, bagi beberapa orang kacamata bisa menjadi aksesoris dalam memperindah tampilan wajah. Hal ini juga berlaku untuk saya. Berkat kacamata-lah hidung saya yang maju kedalam jadi tersamarkan. Pun dengan mata saya yang sipit. Saya masih ingat saat teman-teman saya tertawa waktu saya melepas kacamata. Padahal cuma sepersekian detik. Yet seems like they didnt wanna miss a thing.

'Heeeeh sipitttt

'Wi melek! Ojok merem!'

'Dewi ngguyu hei, ayo singitan!'


Mulanya saya kesal sekali diledek seperti ini. 

Tapi lama-lama saya juga terbiasa. Ah iya, sepanjang bertemu dengan orang-orang yang biasa berlaku seperti itu, cuma satu orang yang tidak meledek dan bereaksi ketika saya melepas kacamata. Orang pertama yang tidak melihat fisik sebagai bahan candaan dan melihatnya sebagai perbedaan. Malah bilang mata saya jujur dan polos. Katanya.....dulu :)

Karena kesipitan mata saya ini, tidak jarang orang-orang yang baru mengenal saya bertanya, 'Keluarga kamu Chinese??'
Dalam hati saya tertawa. Orang keturunan Lumajang-Pasuruan asli dibilang keturunan Chinese. 

Meski terlihat imut *kata orang lho, bukan saya sendiri yang menasbihkan diri saya imut*, namun ada saat-saat tertentu yang terkadang membuat saya ingin mempunyai mata normal saja. Nah, momen paling menyebalkan saat memakai kacamata berdasarkan pengalaman saya diantaranya:

1. Saat mau makan makanan berkuah dan panas

Saya paling sebal kalau berdiri didekat gerobak bakso, lalu bapak penjualnya membuka tutup panci secara tiba-tiba. Niat hati mau memberikan instruksi ke bapaknya untuk pesanan saya, eh tetapi begitu tutup panci diangkat langsung uap panasnya menerpa wajah.


Sensasinya enak sih ya, di wajah terasa hangat. Cuma ya....itu. seketika dunia saya tertutup kabut pekat.

2. Saat hujan turun

Saya selalu pasrah kalau musim hujan tiba. Terutama jika saya harus berkegiatan diluar. Kacamata saya adalah benda yang paling riskan saat itu. Apalagi ketika saya gowes, wah penampakan kacamata saya sudah seperti kaca mobil. Penuh tetesan air hujan dan berembun. Kalau ada desain kacamata dilengkapi dengan fitur wiper, saya ingin sekali membelinya. Karena saya sudah capek melakukan ini dengan jari:


*Keep wiping Dew*


3. Saat habis berlari

Hujan, kehujanan, panas, kepanasan. Kalau hujan kena air, kalau panas kena keringat sendiri. Dan ujung-ujunganya sama: berembun. 


4. Saat mau mandi atau wudhu

Kalau ini sih, saya yang menertawakan kebodohan sendiri.  Sesekali saya lupa saat membasuhkan air ke wajah saat wudhu dalam keadaan kacamata masih terpasang.

*membasuh air ke wajah*

*membatin dalam hati 'ih segerrr'

*membuka mata* *pandangan terhalang titik-titik air*

'Lho heee kacamata...lupa kannn'


Atau saat momen mandi:

*merem sambil mengguyur air ke kepala*

*buka mata, merasa ada yang janggal* 

*penglihatan buram*

'Astaghfirullah...kenapa kacamatanya tak siram pisan sihh'


5. Saat kacamata rusak
Saya paling sedih kalau kacamata rusak. Otomatis semua kegiatan saya terganggu. Pernah saya hanya duduk seharian dikamar karena kacamata yang saya pakai rusak. Apesnya, saya tidak memiliki kacamata cadangan waktu itu. Benar-benar dunia jadi gelap rasaya. Makan kurang berselera, mau mandi malas jalan ke kamar mandinya, mau lihat handphone pun tersiksa. Saat terpikir mau pergi ke optik, saya sadar.
'Lah kan saya butuh kacamata untuk beli kacamata baru'



Umur boleh bertambah
Wajah boleh berubah
Yang pasti saya tetap saya
Apapun warna kacamatanya 
*krik*

Comments

Popular Posts